BOM WAKTU KOMUNISME

 Feb 13, 2017 | Asy Syariah Edisi 113, Manhaji
Komunis adalah sebuah kata yang tabu di telinga mayoritas rakyat Indonesia, terlebih kaum muslimin. Bahkan, sebagian orang mungkin sangat trauma ketika mendengar kata-kata komunis, karena dapat membuka luka lama dan mengingatkan rekam jejak orang-orang komunis yang sadis, kejam,  dan tak berperikemanusiaan. Dengan kendaraan Partai Komunis Indonesia (PKI), mereka bergerak. Berbagai operasi berdarah pun mereka lakukan atas nama revolusi.
Menelisik sejarahnya, orang-orang komunis di negeri ini tak pernah patah arang mewujudkan cita-cita jahat mereka, yaitu merebut kekuasaan tertinggi di bumi Nusantara ini dan menjadikannya sebagai negara komunis. Makar dan kekuatan terselubung senantiasa mereka himpun. Kader-kader setia mereka, baik sipil maupun militer, didoktrin siaga untuk menjalankan komando atasan.
Pada saatnya mereka akan bergerak dengan cepat. Bila demikian, segala cara akan mereka halalkan. Meskipun harus membunuh, menyiksa, dan berjalan di atas darah mayat-mayat manusia yang mati bergelimpangan. Sebagaimana yang terjadi di Uni Soviet, induk semang PKI baik di masa Vladimir Ilyich Lenin maupun Joseph Stalin.
Pada November 1926, PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan ini dapat dihancurkan secara brutal oleh penguasa kolonial dan pada 1927 PKI dinyatakan terlarang. Walau demikian PKI tak putus asa. Sebagai kekuatan komunisme terbesar nomor tiga dunia saat itu setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), PKI terus bergerak di bawah tanah.
Pada 1945, setelah Jepang menyerah, PKI muncul kembali di panggung politik dan secara aktif mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan dari Belanda. Banyak unit bersenjata berada di bawah kontrol atau pengaruh PKI.
Pada 11 Agustus 1948 Musso (salah seorang tokoh senior PKI) kembali ke Jakarta setelah dua belas tahun tinggal di Uni Soviet. Politbiro PKI direkonstruksi, termasuk D.N. Aidit, M.H. Lukman dan Njoto. Pada 5 September 1948 Musso memberikan pidato anjuran agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Anjuran itu akhirnya berujung pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Jawa Timur.
Ketika bangsa Indonesia dalam keadaan genting, sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan agresi Belanda II, PKI berkhianat terhadap bangsa dan negara dengan melakukan pemberontakan di Kota Madiun, Jawa Timur.
Pada 18 September 1948, PKI mengumumkan proklamasi ‘Republik Soviet Indonesia’ dengan Musso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri. Namun, dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, pada 30 September Madiun bisa diambil alih oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Divisi Siliwangi. Musso dan beberapa pemimpin PKI lainnya berhasil ditangkap dan dieksekusi pada 31 Oktober 1948.
PKI bangkit kembali pada tahun 1950. Berbagai kegiatannya mulai aktif, termasuk penerbitan dengan organ utamanya Harian Rakjat dan Bintang Merah. Di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, PKI berkembang sangat pesat. Di samping kaderisasi ke dalam terus dilakukan, pendekatan kepada kaum nasionalis dan agamis pun digalakkan. Tak heran, pada era 1960-an dicetuskan istilah NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme) oleh Presiden Soekarno. Sekian tahun lamanya, PKI dapat mengambil hati presiden. Tokoh-tokohnya pun banyak yang menduduki jabatan strategis pemerintahan.
Pada 14 September 1965, D.N. Aidit mengalamatkan kepada gerilyawan PKI untuk mendesak anggota agar waspada dari berbagai kemungkinan yang akan datang. Pada 30 September 1965, Pemuda Rakyat dan Gerwani—dua organisasi PKI—menggelar unjuk rasa massal di Jakarta terkait dengan inflasi yang melanda.
Pada malam 30 September dan 1 Oktober 1965, enam jenderal senior Indonesia dibunuh dan mayat mereka dibuang ke dalam sumur. Pembunuh para jenderal mengumumkan keesokan harinya bahwa Dewan Revolusi baru telah merebut kekuasaan. Mereka menyebut diri sebagai Gerakan 30 September (G30S).
Dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala kemudian kerja sama yang baik antara TNI dengan rakyat terutama kaum muslimin, pemberontakan G30S/PKI ini dapat dihancurkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun berikutnya. (Disadur dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia/ dengan beberapa tambahan)
Demikianlah Partai Komunis Indonesia alias PKI, mereka sangat berambisi untuk menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara komunis. Walau sudah puluhan tahun dibatasi ruang gerak mereka, namun geliat gerakan bawah tanahnya terus berjalan. Secara senyap mereka bermetamorfosa menjadi bentuk baru, dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.
Manakala banyak tokoh pelaku sejarah yang kontra-PKI telah meninggal dunia, mereka pun mulai bangkit secara nyata dan sok tampil sebagai penuntut keadilan dengan memutar fakta sejarah seolah-olah mereka adalah korban.      Terkait hal di atas, KASAD TNI Jenderal Mulyono pada 30 September 2015 lalu memberikan peringatan waspada kepada seluruh rakyat Indonesia sebagaimana berikut.
“Komunis akan bermetamorfosa menjadi bentuk baru, gerakannya makin sulit dikenali dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.”
“Kebangkitan ideologi komunis makin terlihat nyata, ada kelompok yang ingin memutar fakta sejarah seolah mereka adalah korban.” (http://m.detik.com/news/berita/3032290/ksad-kebangkitan-ideologi-komunis-semakin-nyata-waspada/)
Bila demikian, PKI dan ideologi komunisme dengan segala bentuknya ibarat bom waktu yang setiap saat siap meledak di Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) ini. Maka dari itu, wajib bagi seluruh warga negara terutama kaum muslimin untuk waspada. Dengan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Kitab Suci al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya yang mulia dengan pemahaman para sahabat yang mulia, serta bahu-membahu dengan pemerintah, baik sipil maupun militer.
Namun, tak kalah pentingnya bagi kita untuk mengetahui kesesatan komunisme selaku ideologi. Sebab, dari situlah semua gerakan mereka berawal: di ranah politik, sosial, agama, berbangsa, dan bernegara. Harapannya, dengan mengetahui kesesatan ideologinya akan lebih kokoh dalam membentengi diri, keluarga, bangsa dan negara dari bahaya laten komunis.

Komunisme dan Latar Belakangnya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa komunisme adalah paham atau ideologi (di bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels yang bermaksud menghapus hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama yang dikontrol oleh negara.
Merunut asal usulnya, komunisme merupakan buah dari akar-akar ideologi sosialisme yang digulirkan oleh seorang keturunan Yahudi Jerman yang bernama Karl Marx. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, sosialisme adalah ajaran atau paham kenegaraan dan ekonomi yang berusaha supaya harta benda, industri, dan perusahaan menjadi milik negara.
Dari sisi latar belakang, ideologi sosialisme-komunisme muncul ketika kalangan atas alias borjuis banyak menguasai permodalan usaha dan tak memedulikan kalangan bawah (proletar). Dengan kata lain, sosialisme-komunisme muncul untuk menumbangkan kapitalisme-imperialisme barat yang saat itu sedang berjaya.
Kaum sosialis-komunis bercita-cita agar kalangan bawah (proletar) yang mayoritasnya adalah buruh dan petani bisa sejahtera dan berkuasa. Menurut anggapan mereka, hanya dengan sosialisme-komunisme cita-cita tersebut akan tercapai.
Di antara langkah yang harus ditempuh adalah memasukkan harta benda, industri, dan perusahaan ke dalam kepemilikan negara, tidak boleh dimiliki oleh perseorangan (swasta). Dengan demikian, tidak ada kesempatan bagi kalangan borjuis untuk menguasai modal dan menimbun harta. Dengan itulah—menurut mereka—kapitalisme dapat ditumbangkan dan keadilan dapat ditegakkan.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemantik utama bergulirnya sosialisme adalah perbedaan kelas atau tingkat sosial kemasyarakatan yang dinilai dengan standar materi dan pembelaan terhadap kalangan bawah (proletar). Adapun komunisme merupakan penerapan radikal dari sosialisme dalam lapangan politik. Untuk pertama kalinya, komunisme diterapkan dalam lapangan politik di Uni Soviet oleh Vladimir Ilyich Lenin.
Asy-Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali y ketika mengkritisi paham sosialis yang ada pada Sayyid Quthb mengatakan, “Tidak tersembunyi bahwa ini adalah argumentasi orang-orang komunis dan sosialis untuk menguasai harta manusia dan menjadikannya milik bersama dengan isu keadilan, persamaan, dan kepentingan bersama.
Itulah argumentasi orang-orang komunis dan sosialis, padahal itu adalah kezaliman, kecurangan, pendiskreditan umat manusia dan berbagai kepentingan mereka, serta menjadikan orang-orang kaya di antara mereka dan orang-orang miskin sebagai budak-budak yang hina setelah harta mereka dirampas.
Berbagai jaminan palsu yang dipromosikan oleh orang-orang sosialis itu pun pasti akan menguap dan sirna. Cukuplah rekam jejak pemerintahan-pemerintahan sosialis-komunis sebagai pelajaran terbesar bagi orang-orang yang dapat mengambil pelajaran.” (Adhwa’ Islamiyyah ala Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi, hlm. 215—216)
Islam menolak komunisme dan kapitalisme. Islam berada di antara keduanya dan tidak membutuhkan keduanya. Komunisme memasung hakhak kalangan atas. Kapitalisme memasung hak-hak kalangan bawah.
Islam tidak memasung hak-hak keduanya, justru memerhatikannya. Kalangan atas dan kalangan bawah, sama-sama mendapatkan haknya secara adil, sesuai kapasitas dan porsinya. Islam tidak menjadikan kalangan atas dan kalangan bawah sebagai dua tingkatan yang bermusuhan. Bahkan, Islam berupaya merapatkan keduanya dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang indah dan menjadikan keduanya sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandingkan sahabat yang kaya dengan yang miskin dalam majelis-majelis beliau. Bahkan, dalam shalat berjamaah lima waktu yang merupakan momen bermunajat kepada Allah paling mulia dalam Islam, nyaris tak terbedakan antara si kaya dan si miskin. Semua berdiri sama tinggi dan sama rendah menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Nilai kemuliaan seseorang tidak terletak pada materi atau tingkatan sosialnya, tetapi pada ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Di dalam Islam, kekayaan berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain merupakan rezeki yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan keadilan-Nya yang Mahasempurna, Allah subhanahu wa ta’ala mengatur pembagian rezeki tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan porsinya masing-masing. Ada yang diberi kelapangan dan ada pula yang diberi kesempitan. Semua itu sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥٢

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (az-Zumar: 52)

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rejeki.” (an-Nahl: 71)
Islam selalu merekatkan hubungan antara kalangan atas dan kalangan bawah, si kaya dan si miskin. Tidak seperti kapitalisme yang memposisikan kalangan atas pada posisi yang tinggi, sementara kalangan bawah menjadi orang rendahan yang tak mungkin disandingkan. Tidak pula seperti komunisme yang memosisikan kalangan atas sebagai musuh yang harus diperangi dan diambil hartanya, sementara kalangan bawah menjadi kaum tertindas yang harus dibela dan diperjuangkan haknya.
Di antara bentuk bimbingan Islam yang indah dalam merekatkan hubungan antara kalangan atas dengan kalangan bawah adalah adanya zakat, infak, dan sedekah dengan berbagai jenisnya; zakat mal (harta), zakat peternakan, zakat hasil pertanian, rikaz, dan lain-lain. Ia dikeluarkan oleh si kaya lalu disalurkan kepada yang berhak mendapatkannya, termasuk orang-orang fakir dan miskin. Bahkan, tidaklah zakat fitrah disalurkan melainkan untuk kalangan bawah fakir dan miskin semata.
Adanya kaffarah (denda) karena pelanggaran tertentu dalam agama dengan cara membebaskan budak atau memberi makan fakir dan miskin juga merupakan sentuhan langsung terhadap kalangan bawah. Tuntunan memasak daging dengan kuah yang banyak supaya bisa berbagi dengan tetangga, menyantuni anak-anak yatim dan para janda, larangan membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia (lansia) dalam pertempuran, hingga anjuran tebar senyum sebagai bentuk sedekah; merupakan bukti tentang perhatian Islam terhadap kalangan bawah.
Di sisi lain, Islam memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk mencari rezeki. Segala yang dihasilkan dari jerih payah tersebut berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain pun sah menjadi hak miliknya. Dia berkewenangan untuk mengelolanya dan menikmati hasilnya. Ini menunjukkan bahwa Islam memerhatikan kalangan atas.
Namun, Islam mengharamkan kezaliman dan tindakan semena-mena. Islam tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan meraup keuntungan. Maka dari itu Islam mengharamkan riba, suap, monopoli perdagangan, kecurangan, penimbunan barang dagangan agar harga melambung, dan tindakan liar lainnya. Ini menunjukkan bahwa Islam kontra-kapitalisme.

Pokok-Pokok Ideologi Komunis
Banyak orang mengira bahwa sosialisme-komunisme hanyalah sebatas ideologi yang berkaitan dengan sistem ekonomi dan politik yang bermaksud menghapus milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama. Sebuah ideologi yang kontra total dengan kapitalisme dan berusaha mengangkat derajat kalangan bawah. Padahal masalahnya tak sebatas itu.
Sosialisme-komunisme mempunyai pokok-pokok ideologi kufur yang sangat bertentangan dengan Islam bahkan semua agama samawi. Pokok-pokok ideologi komunis tersebut antara lain,
  1. Tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis)
  2. Ingkar terhadap hari kiamat
  3. Ingkar terhadap al-Jannah (surga) dan an-Naar (neraka)
  4. Menentang semua agama

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Di antara akidah kufur yang bertentangan dengan akidah yang benar dan menyelisihi agama yang dibawa oleh para rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keyakinan kaum ateis masa kini pengikut Karl Marx, Vladimir Ilyich Lenin, dan para penyeru ateis dan kekufuran selain mereka, baik mereka beri nama dengan sosialisme, komunisme, ba’ts, atau yang selainnya.
Di antara pokok-pokok ideologi mereka antara lain; tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis), ingkar terhadap hari kiamat, ingkar terhadap al-Jannah dan an-Naar, dan menentang semua agama.
Barang siapa meneliti buku-buku referensi mereka dan mengkaji pokok-pokok ideologi mereka, niscaya ia akan tahu dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan bahwa akidah ini bertentangan dengan semua agama samawi. Dia juga akan yakin bahwa akidah ini akan mengantarkan penganutnya kepada kesudahan terburuk di dunia dan di akhirat.” (al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha, hlm. 12—13)
Ideologi mereka bahwa tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis); sungguh merupakan kekufuran yang nyata. Ideologi bahwa tidak ada tuhan (baca: Rabb) yang menciptakan alam semesta dan seisinya adalah ideologi ateis yang membinasakan. Ia bertentangan dengan Kitab Suci dan fitrah yang suci. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)
Asy-Syaikh al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini merupakan bentuk penyajian argumen, dengan sesuatu yang mau tidak mau mereka harus tunduk kepada kebenaran atau keluar dari konsekuensi akal dan agama. Penjelasannya adalah bahwa mereka mengingkari tauhidullah dan mendustakan Rasul-Nya yang mengharuskan pengingkaran bahwa Allah yang menciptakan mereka.
Sungguh, telah ditetapkan sebagai hukum akal dan syariat bahwa hal ini tidak keluar dari tiga keadaan, yaitu
(1) bisa jadi mereka tercipta dengan sendirinya, yakni tanpa ada Sang Pencipta yang menciptakan mereka, tetapi ada dengan sendirinya. Ini tentunya sangat mustahil. Atau
(2) mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil. Jika dua kemungkinan itu batil dan mustahil terjadi, tinggal kemungkinan ketiga bahwa
(3) Allah yang menciptakan mereka.
Jika hal ini telah diakui maka dapatlah diketahui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang patut diibadahi dan tidaklah pantas suatu ibadah diberikan kecuali hanya kepada-Nya.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 816)
Setiap manusia yang mengarungi kehidupan ini pasti mempunyai problem. Terkadang problem itu amat berat dan sulit dipecahkan. Saat itulah jiwanya terfitrah mencari tempat bersandar dan mengadu yang di atas manusia, bahkan yang menciptakan manusia dan seluruh jagat raya.
Ideologi mereka bahwa hidup adalah materi (materialistis) sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang menekankan bahwa hidup adalah berserah diri dan menghamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tunduk dan patuh kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Materi adalah bagian dari kehidupan dunia yang fana. Ia adalah fitnah yang dapat menjadikan pemiliknya semena-mena dan melampaui batas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ٧

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup.” (al-Alaq: 6—7)
Kehidupan materialistis tak ubahnya kehidupan binatang. Itulah kehidupan orang-orang kafir di muka bumi ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡ ١٢

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)
Ideologi mengingkari hari kiamat, al-Jannah dan an-Naar merupakan kekufuran yang nyata. Beriman kepada hari kiamat, al-Jannah, dan an-Naar merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim. Barang siapa mengingkarinya, dia kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ٩  وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ١٠ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ١١  ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ١٢ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ١٣  هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ١٤

“Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan. Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya’.”  (ath-Thur: 9—14)
Ideologi mereka menentang semua agama merupakan bukti nyata bahwa orang-orang komunis itu liar dan tak mau diatur oleh aturan agama. Menurut bapak komunisme dunia, Karl Marx, agama adalah opium alias candu. Maksudnya, agama tidak membawa kebaikan dan hanya mendatangkan malapetaka. Agama hanya menipu dan menyesatkan masyarakat.
Maka dari itu, orang-orang komunis sangat membenci orang yang taat beragama, terkhusus muslim. Tak heran, di kala mereka mempunyai kekuasaan dan merajalela, tokoh-tokoh muslimlah yang pertama kali menjadi target kekejaman dan kebengisan mereka.
Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa komunisme sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Maka dari itu, komunisme tak boleh hidup di Indonesia. Pokok-pokok ideologinya yang notabene kekufuran nyata dapat menghancurkan kehidupan beragama kita. Sistem ekonomi dan politiknya yang radikal terhadap kepemilikan swasta dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembelaan yang berlebihan terhadap kalangan bawah alias proletar dan kebencian yang akut terhadap kalangan atas alias borjuis dapat menimbulkan konflik internal yang berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.
Komunisme adalah bahaya laten yang harus senantiasa dipantau, diwaspadai, dan dipangkas akarnya. Komunisme bagaikan bom waktu yang harus segera dijinakkan. Untuk menjinakkannya membutuhkan ilmu, keberanian, ketangkasan, dan penanganan yang tepat. Kalau tidak, bukan suatu hal yang mustahil peristiwa 1948 di Madiun dan G30S/PKI 1965 terulang kembali. Na’udzu billahi min dzalik…
Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi bangsa dan negara Indonesia dari rongrongan dan makar jahat PKI, menjaga para pemimpin bangsa dan rakyat dari pokok-pokok ideologi komunis yang sesat dan menyesatkan, dan mencurahkan limpahan barakah kepada segenap insan muslim yang berteguh diri di atas bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Amiin….

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

Related Posts