Kesehatan Kalbu

Kesehatan Kalbu

Kalbu adalah penggerak seluruh jasad. Jika kalbu rusak, niscaya yang digerakkan pun ikut rusak. Maka, kesehatan kalbu mutlak diperlukan agar anggota badan juga ikut merasakan sehatnya. Mari kita diagnosa kalbu-kalbu kita.

Kalbu yang sehat adalah kalbu yang mengenal Allah, mengetahui hak-hak-Nya, tunduk dan taat kepada-Nya. Kalbu ini penuh dengan kecintaan, pengagungan, sekaligus perendahan diri dihadapan-Nya. Kalbu yang mudah mengetahui kebaikan, mencerna dan mengamalkannya, kalbu tersebut sangat peka terhadap kebatilan kemudian segera menjauhinya.

Kesehatan kalbu adalah keselamatan dunia dan akhirat. Matinya kalbu adalah kematian abadi yang berujung azab pedih neraka. Sehingga sudah sepantasnya untuk dijaga kesehatannya dan diberikan perhatian yang lebih dari pada badan. Seandainya badan sakit, berbagai usaha tawakkal ditempuh untuk mendapatka kesehatannya. Rela kesana-kemari mencari dokter, tidak pernah lupa minum obat persis sebagaimana resepnya, tidak menambah tidak mengurangi, bahkan memaksa diri menjauhi makanan pantangan. Demikian pula ketika sehat, sangat ketat menjaga diri dari penyakit. Mulai dari menjaga kebersihan, makan teratur, banyak minum air putih, tidur cukup sampai membuat jadwal olah raga pekanan. Rela berkorban waktu, tenaga dan harta.

Seharusnya perhatian dan usaha menjaga kesehatan kalbu lebih dari itu semua. Faktanya, kadang pemiliknya tidak merasa apabila kalbunya sakit. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui indikasi sakitnya kalbu sejak dini untuk segera mengambil sikap dan mengobatinya. Jangan sampai bertambah akut kemudian akhirnya mati, na’udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari hal itu).
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam kalbu mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Q.S. Al Baqarah:10].

Ketika kalbu mulai kering dari dzikir kepada Allah, lemah dan tidak bersemangat dalam ketaatan, ini adalah gejala awal sakitnya kalbu. Saat itu, kalbu harus segera disiram dan ditumbuhkan dengan nasehat dan bimbingan rohani. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul dalam salah satu masjid Allah, untuk membaca Al Quran dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketenangan atas mereka, akan diliputi oleh rahmat, malaikatpun akan mengelilingi serta Allah akan memuji mereka di hadapan para malaikat.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Di antara gejala sakitnya kalbu adalah pemiliknya tidak peka atau bahkan tidak merasa sakitnya luka kemaksiatan. Begitu mudah melakukan kemaksiatan tanpa ada penyesalan dan perasaan bersalah kemudian bertaubat kepada Allah darinya. Apabila kondisi ini dibiarkan, lambat laun penyakit ini semakin parah dan akhirnya kalbu tersebut akan mati. Kalbu ini tidak bisa mengenali dan menerima kebenaran. Bahkan, semuanya akan menjadi terbalik, menilai kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi kalbu mereka.” [Q.S. Al-Muthaffifin:14].

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah, seorang ulama tabi’in, menafsirkan maksud dari ‘apa yang selalu mereka usahakan itu’ adalah dosa di atas dosa hingga kalbu menjadi buta dan mati. Demikian pula tafsir dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)
Kemaksiatan yang bertumpuk menjadikan kalbu hitam pekat tertutup oleh noda dosa. Sebagaimana penjelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya, “Sesungguhnya seorang hamba apabila terjatuh dalam dosa akan menyebabkan titik hitam dalam kalbunya. Apabila bertaubat kepada Allah, kalbunya akan dibersihkan kembali. Jika dosa tersebut bertambah, titik hitam pun bertambah. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi kalbu mereka.” [Q.S. Al-Muthaffifin:14]. [H.R. At-Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Shahihul Jami’].

Abdullah bin Mubarak Al-Marwazi Rahimahullah mengungkapkan dalam syairnya:
Ku lihat dosa matikan kalbu yang kan wariskan rendahnya diri
hidupnya kalbu dengan tinggalkan dosa baik bagimu mengingkarinya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau Fawa’id bahwa akar kerusakan kalbu ada dua: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan mengakibatkan butanya kalbu, sehingga tidak bisa mengenali kebenaran, memahaminya, apalagi untuk mengamalkannya. Panjang angan akan menyebabkan lalainya kalbu terhadap kampung akhirat yang akhirnya tidak mampu mempersiapkan perbekalan untuk menyambutnya dengan baik. Semuanya bisa disembuhkan dengan ilmu mengenal Allah, mencintai-Nya, tawakal, dan kembali kepada-Nya yang dapat ditumbuhkan dengan mempelajari Al Quran. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [Q.S. Al Isra’:82]. Allahu a’lam.  
[Ustadz Farhan].
 http://tashfiyah.com/kesehatan-kalbu-2/
Read More
Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Dari sahabat Jabir bin Abdillah, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan (no. 1063) sebuah peristiwa yang terjadi sepulang kaum muslimin dari pertempuran di Lembah Hunain.
Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai bersabda dengan nada yang agak berbeda dari biasanya. Sabda itu ditujukan kepada seseorang yang menuduh beliau tidak berlaku adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ.

“Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika saya tidak berbuat adil?! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”

Riwayat Selengkapnya
Hadits di atas menceritakan peristiwa yang terjadi di Ji’ranah, yaitu sebuah lokasi yang kurang lebih 25 km dari Makkah. Ketika itu, kaum muslimin dalam perjalanan pulang menuju Makkah dari Perang Hunain yang dimenangkan oleh umat Islam.
Di Ji’ranah, Rasulullah membagi-bagikan harta rampasan perang berupa perak kepada yang berhak. Sahabat Bilal radhiallahu ‘anhu yang bertugas untuk membawa perak tersebut di atas kain baju miliknya.
Saat itu, seseorang datang sambil berteriak, “Hai, Muhammad! Bersikaplah adil!”
Nabi Muhammad pun merespon dengan bersabda, “Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika aku tidak berbuat adil! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”
Sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu lantas berseru, “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk membunuh orang munafik semacam ini!”
Akan tetapi, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ma’adzallah! Jangan sampai orang-orang membicarakan bahwa aku membunuh teman-temanku sendiri.”
Kemudian beliau bersabda,

إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, mereka membaca al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar melesat darinya sebagaimana anak panah yang keluar melesat dari sasaran tembaknya.”

Hadits Lain yang Mirip
Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dengan nomor 1063. Tepat setelahnya, yaitu nomor 1064, al-Imam Muslim menyebutkan riwayat lain yang mirip dan serupa. Namun, apakah benar-benar sama?
Hadits dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri (no. 1064) menyebutkan tentang sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai duta Islam untuk negeri Yaman.
Setelah sekian waktu, sahabat Ali radhiallahu ‘anhu mengirim emas yang masih belum diolah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, emas-emas itu dibagikan untuk beberapa tokoh terkemuka di daerah Najd. Mereka adalah al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-Amiri, Zaid al-Khair ath-Tha’i, seorang tokoh dari suku Kilab dan seorang tokoh dari suku Nabhan.
Sebagian kalangan dari suku Quraisy tersinggung. Mereka mengatakan, “Mengapa Rasulullah hanya membagikan untuk tokoh-tokoh Najd, sementara kita dilupakan?”
Akan tetapi, mereka akhirnya menerima dan bisa memahami alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh, tujuanku hanyalah untuk melunakkan hati mereka.”
Tiba-tiba datang seseorang yang berjenggot tebal, bagian atas kedua pipinya menonjol, cekung kedua matanya, dahinya mencuat, dan berkepala botak. Tanpa malu, orang itu menghardik Rasulullah, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad!”
Beliau kemudian bersabda,

فَمَنْ يُطِعِ اللهَ إِنْ عَصَيْتُهُ، أَيَأْمَنُنِي عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ وَلَا تَأْمَنُونِي؟

“Siapakah orangnya yang akan taat kepada Allah, jika aku durhaka kepada-Nya? Apakah Allah memercayai diriku (sebagai pembawa risalah) untuk penduduk bumi, sementara kalian malah tidak memercayai diriku?”
Setelah itu, orang tersebut berlalu pergi. Kemudian salah seorang sahabat yang ikut hadir meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh orang tersebut. Akan tetapi, beliau melarang dan bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya, dari jenis orang ini akan muncul sebuah kelompok. Mereka pandai membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka terlepas keluar dari Islam, sebagaimana keluarnya anak panah dari objek buruan. Jika aku menjumpai mereka, aku akan membunuh mereka sebagaimana kaum ‘Ad dibunuh.”

Kedua Riwayat di Atas, Sama Ataukah Berbeda?
Dua riwayat di atas adalah riwayat yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa hal;
  1. Hadits pertama, yaitu hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu menyebutkan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan pulang dari pertempuran di Lembah Hunain.
Adapun hadits kedua, yaitu hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ke negeri Yaman.
  1. Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu terjadi pada bulan Dzulqa’dah 8 H, sementara hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu pada 9 H.
  2. Harta yang dibagi-bagikan pada hadits Jabir adalah perak. Adapun dalam riwayat Abu Sa’id disebutkan bahwa harta yang dibagi adalah emas.
  3. Menurut hadits Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan perak kepada setiap orang yang datang. Hadits Abu Sa’id tidak demikian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan untuk beberapa kalangan saja.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (12/360) memberikan keterangan, “Keduanya adalah kisah yang terjadi dalam dua waktu yang berbeda. Namun, sama-sama menyebutkan sikap pengingkaran dari pihak pengkritik. Di dalam hadits Abu Sa’id disebutkan secara jelas namanya, yaitu Dzul Khuwaisirah.”
Al-Hafizh melanjutkan, “Sementara itu, dalam hadits Jabir tidak disebutkan nama si pengkritik. Yang menyebutkan nama Dzul Khuwaisirah dalam hadits Jabir telah salah, karena ia menganggap kedua kisah tersebut sama.”
Dengan demikian, Dzul Khuwaisirah sebagai cikal bakal munculnya kaum teroris Khawarij adalah orang yang mengkritik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pembagian emas kiriman dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu; bukan dalam peristiwa pembagian perak sepulang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pertempuran di Lembah Hunain.
Wallahu a’lam.

Bukti Sejarah Misi Duniawi Kaum Teroris
Hanya dakwah Ahlus Sunnah yang tegak berdiri di atas fondasi keikhlasan. Tidak ada tendensi dan tujuan duniawi; bukan harta benda yang dicari, bukan pula popularitas. Ahlus Sunnah tidak bertujuan mencari kedudukan, pangkat, atau jabatan.
Dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah suci yang bertujuan mengajak umat Islam untuk benar-benar kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali (at-Tahdzir minal Fitan, hlm. 90—91) mengingatkan tentang dakwah Ahlus Sunnah, “Demi Allah, wahai anak-anakku. Kita tidaklah sedang memerangi seorang pun. Kita tidak menginginkan politik. Kita tidak menginginkan kekuasaan. Kita tidak menginginkan kedudukan. Demi Allah, seandainya kedudukan itu ditawarkan untuk kita, niscaya kita tidak akan menerimanya.”
Adapun selain Ahlus Sunnah, tujuan dan cita-cita mereka adalah dunia. Termasuk kaum teroris Khawarij, seperti ISIS, al-Qaeda, dan yang semisal mereka. Secara sejarah, kaum teroris Khawarij memang tidak lepas dari target-target duniawi. Bahkan, asal-muasal dan cikal-bakal mereka adalah peristiwa Dzul Khuwaisirah yang mengkritik pembagian harta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia nilai tidak mencerminkan ketakwaan.
Berikut ini beberapa contoh lainnya.
  1. Tragedi pemberontakan yang berujung pada gugurnya sahabat mulia, Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.
Sebelum tragedi itu terjadi, Khalifah Ustman telah berusaha untuk mengatasi gerakan pemberontakan dengan menemui dan menyetujui tuntutan mereka.
Ada lima poin yang menjadi kesepakatan antara Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu dan kaum pemberontak, yaitu
(1) orang yang diasingkan harus dikembalikan,
(2) orang yang tidak punya harta harus diberi,
(3) harta fai harus dibagikan secara sempurna,
(4) harus bersikap adil dalam pembagian harta, dan
(5) yang diangkat sebagai pemimpin haruslah amanah dan kuat.
Jika kita perhatikan, bukankah tuntutan dari para pemberontak teroris di atas, selalu dikaitkan dengan harta dan kedudukan? (Fitnah Maqtal Utsman, karya Muhammad as-Subhi)
Bagaimanakah yel-yel dan pekik suara kaum pemberontak ketika mengepung dan membunuh Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu?
Kaum teroris Khawarij berteriak-teriak setelah membunuh Khalifah Ustman radhiallahu ‘anhu, “Cepat kuasai Baitul Mal! Jangan sampai kalian didahului!”
Seperti itulah teriakan mereka, gamblang memperlihatkan salah satu tujuan yang ingin mereka capai. Allahul musta’an.

  1. Pada masa kekhilafahan sahabat Ali bin Abi Thalib, kaum teroris Khawarij semakin menjadi-jadi.
Sepulang dari Perang Shiffin, sejumlah pasukan menyatakan keluar dan memisahkan diri dari kesatuan pasukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Sebagian ulama menyebut jumlah mereka 16.000 personel. Ada yang berpendapat 12.000. orang. Namun, ada lagi yang mengatakan 6.000 personel.
Atas izin Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berinisiatif menemui para pemberontak dengan tujuan berusaha menyadarkan mereka. Al-Imam an-Nasa’i (al-Khasais, hlm. 195 dan sanadnya dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil di dalam ash-Shahihul Musnad 1/564) meriwayatkan secara detail tentang pertemuan Ibnu Abbas dengan kaum pemberontak.
Di dalam riwayat tersebut, kaum teroris menyampaikan tiga alasan yang mendorong mereka keluar dan memisahkan diri dari pasukan Ali bin Abi Thalib.
Salah satunya, mengapa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berperang, namun tidak menawan dan mengambil harta ghanimah dalam Perang Jamal? Jika mereka yang diperangi adalah kaum kafir, halal untuk ditawan. Namun, jika mereka masih kaum mukminin, tidak boleh ditawan dan diperangi.
Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab kritikan ini, “Adapun Ali bin Abi Thalib berperang melawan pihak Aisyah (Perang Jamal), namun tidak menawan dan mengambil harta ghanimah; apakah kalian akan menawan Ibunda kalian sendiri, yakni Aisyah?
Apakah kalian akan menghalalkan dari beliau sebagaimana kalian menghalalkan dari yang lain? Padahal beliau adalah Ibunda kalian?”
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma melanjutkan, “Jika kalian menjawab, ‘Kami menghalalkan dari beliau sebagaimana kami menghalalkan dari yang lain’, kalian telah kafir. Jika kalian mengatakan, ‘Aisyah bukan Ibunda kami’, kalian pun kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

  ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (al-Ahzab: 6)
Dengan jawaban Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, poin kritikan tersebut pun dinyatakan terhapus oleh kaum teroris. Namun, yang patut untuk digarisbawahi adalah poin kritikan mereka yang dikait-kaitkan dengan harta, dalam hal ini adalah harta ghanimah dalam Perang Jamal.

Jangan Tertipu dengan Penampilan Luar Kaum Teroris
Demikianlah bid’ah kaum Khawarij! Agama digunakan untuk alat mengejar kepentingan dunia. Walaupun kenyataan ini coba dibantah dan diingkari, kenyataan tak mungkin dielakkan. Fakta dan realitas di lapangan menjadi saksi akan kebenaran hal ini.
Jika ada informasi yang menyebutkan bahwa ISIS, al-Qaeda, dan lain-lain memberikan janji dan iming-iming kehidupan yang layak dengan pendapatan dan ekonomi yang baik, hal ini bukanlah jauh dari kenyataan.
Jika mereka dikatakan saling memperebutkan daerah kaya minyak, juga bukanlah satu hal yang aneh. Sebab, pada dasarnya tujuan mereka adalah dunia.
Barangkali tidak semua pihak bisa menerima kenyataan ini. Alasannya, secara lahiriah kaum teroris seperti ISIS dan al-Qaeda menunjukkan ketaatan dan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka digambarkan sebagai kelompok yang rajin berzikir, senang berdoa, menjaga shalat, suka membaca al-Qur’an, dan ingin menegakkan syariat Islam. Bukankah demikian? Begitu kata mereka.
Apakah Anda lupa, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan keadaan mereka sejak dahulu?
Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada para sahabatnya, “Kalian menganggap kecil shalat kalian jika dibandingkan dengan shalat mereka.”
Jadi, jangan terkecoh dengan penampilan luar mereka!
Tentang hal ini, seorang ulama bernama Muhammad bin al-Husain menerangkan (asy-Syariah, karya al-Imam al-Ajurri hlm. 25),
“Seseorang yang melihat orang yang berpemahaman Khawarij, yang memberontak kepada pemerintah—baik yang adil maupun yang jahat—, mengumpulkan massa dan menghunus pedang, serta menghalalkan untuk memerangi kaum muslimin; janganlah dia terkecoh dengan bacaan al-Qur’an (si Khawarij tersebut), panjang shalatnya, puasanya yang terus-menerus, keindahan cara berbicaranya dalam ilmu, jika orang itu berpaham Khawarij.”
Melalui penjelasan singkat ini, marilah bersama-sama menyimpulkan bahwa tujuan dan cita-cita kaum teorirs Khawarij, semacam ISIS dan al-Qaeda, adalah dunia. Entah itu harta, kedudukan, atau lainnya. Penampilan lahiriah mereka tidak dapat menyembunyikan tujuan-tujuan duniawi tersebut. Fakta, kenyataan, dan realitas di lapangan telah mendustakan penampilan lahiriah mereka.
Sebagai penutup, marilah kita membaca kesimpulan tegas yang disampaikan oleh asy-Syaikh Abdur Rahman Muhyiddin, seorang ulama di zaman ini, saat menjelaskan Kitabul Imarat dari Shahih Muslim pada 26/11/1437 H, melalui akun twitter[1], “Sekarang ini, ambisi kaum Khawarij (ISIS) adalah dunia.”
Allahul musta’an.
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai
 http://asysyariah.com/
Read More
Orang yang Bangkrut

Orang yang Bangkrut

Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.
Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.
Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.
Hakikat orang yang bangkrut pada hari kiamat adalah orang yang membawa segudang amal kebaikan, tetapi dia membawa beragam kezaliman terhadap manusia, baik dalam bentuk merampas harta, melukai kehormatan, mencederai tubuh orang, atau melenyapkan nyawa orang tanpa alasan syar’i. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

        أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَ ةَالٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Hukuman yang Mengerikan
Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri, seperti dikatakan, “Barang siapa menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, ia terjatuh sendiri ke dalam lubang itu.”
Bisa dibayangkan betapa rugi dan menyesalnya orang tersebut nanti. Saat ia mengharapkan amal kebaikannya akan menolongnya dari kedahsyatan kiamat, kebaikannya justru lenyap diambil orang lain, bahkan dia dicampakkan ke dalam neraka.
Kalau orang zalim yang masih punya amal kebaikan saja seperti ini nasibnya, lantas bagaimana halnya bila dia tidak punya kebaikan sama sekali, bahkan kitab catatan amalnya semuanya berisi kejelekan?

Allah ‘azza wa jalla berfirman,
إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩
        “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

Tiada yang ditunggu oleh orang yang zalim kecuali kehancuran. Kekuasaan akan lenyap, keperkasaan akan sirna.
Allah ‘azza wa jalla berfirman,
فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةَۢ بِمَا ظَلَمُوٓاْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٥٢
        “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (an-Naml: 52)
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Seandainya suatu gunung berbuat zalim terhadap gunung yang lain, maka yang zalim akan dihancurkan.” (al-Adabul Mufrad no. 601)
Kalau gunung yang materialnya batu-batu yang keras dan besar saja akan diluluhlantahkan apabila berbuat zalim, bagaimana kiranya dengan manusia yang hanya berupa daging, darah, dan tulang yang lemah?

Kezaliman Itu Beragam
Kezaliman itu bermacam-macam. Ada yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan ada yang berhubungan dengan hak-hak manusia.
Yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla adalah dengan menerjang larangan-larangan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan perintah-Nya, dan mendustakan berita-Nya. Kezaliman paling besar adalah menyekutukan Allah ‘azza wa jalla (syirik). Apabila orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla mati dalam keadaan belum bertobat dari kesyirikannya, dia tidak akan diampuni.
Adapun dosa setelah syirik adalah dosa-dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman di dunia, azab di akhirat, atau kutukan dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Setelah itu, ada dosa-dosa kecil.
Dosa selain menyekutukan Allah ‘azza wa jalla masih ada harapan untuk diampuni.
Allah ‘azza wa jalla berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ
        “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 116)

Adapun kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak manusia, urusannya lebih rumit. Seseorang yang menzalimi hak-hak orang lain hendaknya segera mengembalikannya atau meminta kehalalannya. Jika tidak demikian, ancaman di akhirat sangat mengerikan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Kehormatan Seorang Muslim
Ketika menunaikan haji wada’ (perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan-pesan akhirnya menjelang wafat. Di antara pesan beliau adalah menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah dan harta kalian (kaum muslimin) itu haram (untuk dirampas) seperti sucinya hari ini, di bulan ini (haji ini), dan di negeri kalian ini (Makkah).” ( HR . Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu)

Bahkan, lenyapnya dunia lebih ringan daripada melenyapkan nyawa seorang muslim tanpa hak. Demi terjaganya kehormatan dan kepemilikan seorang muslim serta terwujudnya stabilitas keamanan di tengah masyarakat, Islam memberikan ancaman hukuman fisik (had) bagi yang mencabik-cabik hak seorang muslim.
Sebagai contoh, hukuman bagi perampok adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau hukuman lain yang telah ditetapkan oleh agama. Orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, tanpa ada kesalahan yang berhak untuk dibunuh, pelakunya terancam hukuman qishash (nyawa dibalas nyawa).
Tanpa ada ancaman dan hukuman yang setimpal, orang yang melakukan kejahatan akan menganggap enteng ketika melanggar hak-hak orang lain.

Muslim yang Baik
Seorang muslim yang hakiki memiliki ketulusan sikap dalam beragama dan mempunyai kepribadian yang bagus.
Apabila datang perintah agama, muslim yang baik akan siap menjalankannya dengan sepenuh ketulusan apapun kondisinya.
Berikutnya, larangan agama disikapi dengan meninggalkan apa yang dilarang agama meskipun hawa nafsu ini ingin melakukannya. Dia menjauhkan dirinya dari hal-hal yang bisa memudaratkan orang lain, baik sengaja maupun tidak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
        “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan, “Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla, menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman (seseorang) tidak dikatakan sempurna sampai ia mencintai untuk kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan terhindarnya mereka dari kejahatan lisan dan tangannya.
Hal ini merupakan pokok kewajiban yang harus ia berikan kepada muslimin. Barang siapa yang kaum muslimin tidak terhindar dari (kejelekan) lisan dan tangannya, bagaimana mungkin ia akan menunaikan kewajibannya terhadap saudaranya kaum muslimin?!” (Bahjatul Qulub, hlm. 14)
Kemudian, ketahuilah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah muslim lain terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” tidak berarti kita boleh menzalimi orang kafir dengan merampas haknya. Sebab, orang kafir pun bermacam-macam.
Ada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslimin dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin. Ada pula orang kafir yang masuk ke negara muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan (suaka politik) dari pemerintah muslimin. Ada lagi orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Tiga jenis orang kafir tersebut tidak boleh dirampas hartanya atau dilukai tubuhnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.
“Berhati-hatilah dari doa orang yang dizalimi meskipun ia kafir, karena tidak ada penghalang bagi doanya.” (HR . Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ no. 119)

Adapun jenis kafir yang keempat adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi muslimin dan angkat senjata terhadap muslimin. Orang kafir seperti ini halal darah dan hartanya.

Orang yang Merugi Amalnya
Tidak semua orang yang beramal kebaikan itu diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Ada syarat dan ketentuan untuk diterimanya sebuah amal. Semata-mata niat yang tulus dalam beramal tidak berguna apabila amalan tersebut tidak ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
        “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam agama kami, amalan itu tertolak.” (HR . Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)
Contohnya sangat banyak. Misalnya adalah bentuk perjuangan/jihad menegakkan agama yang dilakukan oleh orang yang berpemahaman Khawarij semacam ISIS dan al-Qaeda.
Sebagian mereka melakukan pembunuhan kepada pihak-pihak yang dituduh kafir dengan cara di luar batasan agama. Mereka juga melakukan bom bunuh diri, yang sejatinya dalam Islam adalah dosa besar. Akan tetapi, mereka menjuluki pelaku bom bunuh diri sebagai syahid. Mereka menghancurkan fasilitas-fasilitas umum. Tidak sedikit yang menjadi korbannya justru kaum muslimin.
Jihad yang sejatinya adalah amalan mulia untuk menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, mereka rusak dengan aksi-aksi yang konyol. Karena ulah bodoh mereka, orang kafir enggan masuk Islam. Orang kafir justru fobia terhadap Islam dan sinis terhadap muslimin.
Tidak sedikit kaum muslimin yang diintimidasi setiap ada aksi teror kelompok ini di belahan bumi lainnya.
Padahal ketika ditanya tentang siapa orang yang dikatakan berperang di jalan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.
“Barang siapa berperang agar kalimat (agama) Allah itu mulia, itulah yang jihad fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dengan aksi mereka, apakah orang kafir jadi masuk Islam? Apakah Islam dimuliakan oleh kaum muslimin sendiri—jangan Anda tanya bagaimana reaksi nonmuslim? Apakah agama Allah ‘azza wa jalla menjadi mulia dengan itu?
Jawabannya, hasilnya bertolak belakang. Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan jihad syar’i? Hendaknya mereka merujuk kepada bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat agar tidak sia-sia amalannya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,
قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤
        “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)
Pada sebagian aksi teror mereka, ada korban dari pihak muslimin. Lalu mana pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga korban? Mana penyesalan mereka?
Nabi Musa ‘alaihissalam saja saat dahulu memukul orang Qibthi yang kafir sampai mati ketika orang Qibthi ini berkelahi dengan seorang Bani Isra’il dari kaumnya, beliau ‘alaihissalam menyesali hal tersebut dan bertobat, padahal yang ia pukul seorang Qibthi kafir.
Namun, karena Nabi Musa ‘alaihissalam tidak diperintah untuk membunuhnya, beliau ‘alaihissalam menyesali perbuatannya yang keliru. Bahkan, penyesalan tersebut terus beliau bawa hingga hari kiamat di Padang Mahsyar sebagaimana dalam hadits syafaat.
Akan tetapi, anehnya para teroris justru bangga dengan aksi terornya yang merenggut nyawa orang yang seharusnya tidak berhak untuk dicederai. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.
Mengapa mereka tidak menyesalinya?
Karena mereka beranggapan bahwa aksinya adalah ibadah, meskipun sejatinya bertentangan dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat ini.
Syarat sahnya amal berikutnya adalah harus ikhlas, semata-mata hanya mencari wajah Allah ‘azza wa jalla.
Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu amal kebaikan bisa lenyap atau minimalnya menjadi berkurang karena perbuatan dosa. Sebagaimana amal saleh bisa melenyapkan dosa, dosa juga bisa melenyapkan amal saleh.
Di antara dosa yang bisa melenyapkan amal saleh adalah menzalimi orang lain. Bahkan, pelakunya akan disegerakan azabnya di dunia ini sebelum azab pada hari kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَة مِنَ الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم
Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah akan segerakan azab bagi pelakunya di dunia—di samping azab yang Allah simpan baginya di akhirat—melebihi (dosa) kezaliman dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab, dan lain-lain dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ no. 5704)
Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

 http://asysyariah.com/orang-yang-bangkrut/
Read More