Meniti Jalan Sahabat

Meniti Jalan Sahabat

“Tidaklah mendatangi kalian suatu masa kecuali masa yang setelahnya lebih jelek dari masa tersebut.” [H.R. Al-Bukhari, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu]
Merupakan sunnatullah bahwasanya setiap datang suatu zaman, pasti zaman tersebut lebih jelek dari sebelumnya.
Mari bercermin pada zaman pertama, zaman Nabi Adam ‘alaihi sallam. Pada zaman itu seluruh manusia menyembah Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Lalu, saat sepuluh generasi berlalu, muncullah umat Nabi Nuh yang mempersekutukan Allah dengan menyembah orang shalih. Saat turun azab Allah kepada penduduk bumi hingga hanya tersisa Nabi Nuh beserta orang-orang yang bertauhid, bumi pun menjadi tenang. Kemudian muncullah kembali penyembah selain Allah yang lebih buruk daripada generasi yang terdahulu. Demikianlah seterusnya, hingga Allah pun mengutus kepada kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi terakhir, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di utus kepada sekalian alam . Beliau membawa cahaya penerang kepada masyarakat yang telah rusak moralitas dan agamanya dalam segala aspek. Beliau membawa cahaya yang telah disempurnakan oleh Dzat Yang berada di atas langit ketujuh.

Read More
Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat

Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat

Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.
Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,
فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨
        “Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)

Apa Itu Syafaat?
Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.

Read More
💥⚠⛔🔥 SIKAP KERAS DAN AKHLAK BURUK AKAN MEMALINGKAN MANUSIA DARI KEBENARAN!!

✍🏼 Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:

بعض الناس قد يكون صارفا للناس صادا لهم بأخلاقه السيئة وتعاملاته الرديئة، فإيكم ثم إياكم والشدة في تعامل بعضكم بعضا، وفي التعامل مع الناس، وفي تبليغ دعوة الله تبارك وتعالى.

"Sebagian orang terkadang memalingkan manusia dari kebenaran dan menghalangi mereka darinya dengan sebab akhlaknya yang buruk dan perilakunya yang jelek. Maka jangan sekali-kali kalian bersikap keras dalam pergaulan diantara kalian, dalam berhubungan dengan orang lain, dan ketika menyampaikan dakwah agama Allah Tabaraka wa Ta'ala."

📚 Al-Lubab Min Majmu’ Nashaih asy-Syaikh Rabi’ lisy Syabab, hlm. 289

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Read More
Yang Muda Yang Bertakwa

Yang Muda Yang Bertakwa

Siapa bilang waktu muda cuma untuk hura-hura? Waktu muda adalah waktu yang prospektif untuk investasi masa datang. Jangan tunggu masa tua kalau bisa dikerjakan di hari ini.
Siapa sih yang tidak mau masuk surga? Tapi, perlu kita ketahui bahwa masuk ke dalam surga itu bukan perkara yang mudah kecuali orang yang dimudahkan oleh Allah. Karena, surga itu dikelilingi dengan sesuatu yang kita benci, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan sesuatu yang kita inginkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Saat Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus Malaikat Jibril ke surga. Allah berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihat surga dan apa yang Aku persiapkan bagi penghuninya.’ Jibril pun mendatanginya dan melihatnya serta apa yang dipersiapkan bagi penghuninya. Lalu Jibril pun kembali dan mengatakan, ‘Demi
Read More
Ilmu Berbuah Bahagia

Ilmu Berbuah Bahagia

Ilmu ibarat pisau bermata dua. Barakahnya melimpah dunia akhirat ketika disyukuri, sebaliknya akan menjadi petaka yang tidak berakhir ketika dikufuri. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewanti-wanti, “Al Quran adalah hujah yang membelamu atau justru akan menuntutmu.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Malik Al Asy’ariRadhiyallahu ‘anhu]. Al Quran justru akan menuntut seseorang apabila ilmu Al Quran yang ia miliki sekedar wawasan tidak diamalkan. Allah pun mencela mereka yang tidak mengamalkan ilmunya, celaan yang dibaca sepanjang zaman. Allah Ta’ala berfirman:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Apakah kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kalian berpikir?” [Q.S. Al Baqarah:44]. Syaikh As Sa’di menafsirkan bahwa walaupun ayat ini turun khusus pada Bani Israil,
Read More
Orang Yang Bangkrut

Orang Yang Bangkrut

Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.
Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.
Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.

Read More
Kesehatan Kalbu

Kesehatan Kalbu

Kalbu adalah penggerak seluruh jasad. Jika kalbu rusak, niscaya yang digerakkan pun ikut rusak. Maka, kesehatan kalbu mutlak diperlukan agar anggota badan juga ikut merasakan sehatnya. Mari kita diagnosa kalbu-kalbu kita.

Kalbu yang sehat adalah kalbu yang mengenal Allah, mengetahui hak-hak-Nya, tunduk dan taat kepada-Nya. Kalbu ini penuh dengan kecintaan, pengagungan, sekaligus perendahan diri dihadapan-Nya. Kalbu yang mudah mengetahui kebaikan, mencerna dan mengamalkannya, kalbu tersebut sangat peka terhadap kebatilan kemudian segera menjauhinya.

Kesehatan kalbu adalah keselamatan dunia dan akhirat. Matinya kalbu adalah kematian abadi yang berujung azab pedih neraka. Sehingga sudah sepantasnya untuk dijaga kesehatannya dan diberikan perhatian yang lebih dari pada badan. Seandainya badan sakit, berbagai usaha tawakkal ditempuh untuk mendapatka kesehatannya. Rela kesana-kemari mencari dokter, tidak pernah lupa minum obat persis sebagaimana resepnya, tidak menambah tidak mengurangi, bahkan memaksa diri menjauhi makanan pantangan. Demikian pula ketika sehat, sangat ketat menjaga diri dari penyakit. Mulai dari menjaga kebersihan, makan teratur, banyak minum air putih, tidur cukup sampai membuat jadwal olah raga pekanan. Rela berkorban waktu, tenaga dan harta.

Seharusnya perhatian dan usaha menjaga kesehatan kalbu lebih dari itu semua. Faktanya, kadang pemiliknya tidak merasa apabila kalbunya sakit. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui indikasi sakitnya kalbu sejak dini untuk segera mengambil sikap dan mengobatinya. Jangan sampai bertambah akut kemudian akhirnya mati, na’udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari hal itu).
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam kalbu mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Q.S. Al Baqarah:10].

Ketika kalbu mulai kering dari dzikir kepada Allah, lemah dan tidak bersemangat dalam ketaatan, ini adalah gejala awal sakitnya kalbu. Saat itu, kalbu harus segera disiram dan ditumbuhkan dengan nasehat dan bimbingan rohani. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul dalam salah satu masjid Allah, untuk membaca Al Quran dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketenangan atas mereka, akan diliputi oleh rahmat, malaikatpun akan mengelilingi serta Allah akan memuji mereka di hadapan para malaikat.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Di antara gejala sakitnya kalbu adalah pemiliknya tidak peka atau bahkan tidak merasa sakitnya luka kemaksiatan. Begitu mudah melakukan kemaksiatan tanpa ada penyesalan dan perasaan bersalah kemudian bertaubat kepada Allah darinya. Apabila kondisi ini dibiarkan, lambat laun penyakit ini semakin parah dan akhirnya kalbu tersebut akan mati. Kalbu ini tidak bisa mengenali dan menerima kebenaran. Bahkan, semuanya akan menjadi terbalik, menilai kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi kalbu mereka.” [Q.S. Al-Muthaffifin:14].

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah, seorang ulama tabi’in, menafsirkan maksud dari ‘apa yang selalu mereka usahakan itu’ adalah dosa di atas dosa hingga kalbu menjadi buta dan mati. Demikian pula tafsir dari Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)
Kemaksiatan yang bertumpuk menjadikan kalbu hitam pekat tertutup oleh noda dosa. Sebagaimana penjelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya, “Sesungguhnya seorang hamba apabila terjatuh dalam dosa akan menyebabkan titik hitam dalam kalbunya. Apabila bertaubat kepada Allah, kalbunya akan dibersihkan kembali. Jika dosa tersebut bertambah, titik hitam pun bertambah. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi kalbu mereka.” [Q.S. Al-Muthaffifin:14]. [H.R. At-Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Shahihul Jami’].

Abdullah bin Mubarak Al-Marwazi Rahimahullah mengungkapkan dalam syairnya:
Ku lihat dosa matikan kalbu yang kan wariskan rendahnya diri
hidupnya kalbu dengan tinggalkan dosa baik bagimu mengingkarinya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau Fawa’id bahwa akar kerusakan kalbu ada dua: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan mengakibatkan butanya kalbu, sehingga tidak bisa mengenali kebenaran, memahaminya, apalagi untuk mengamalkannya. Panjang angan akan menyebabkan lalainya kalbu terhadap kampung akhirat yang akhirnya tidak mampu mempersiapkan perbekalan untuk menyambutnya dengan baik. Semuanya bisa disembuhkan dengan ilmu mengenal Allah, mencintai-Nya, tawakal, dan kembali kepada-Nya yang dapat ditumbuhkan dengan mempelajari Al Quran. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [Q.S. Al Isra’:82]. Allahu a’lam.  
[Ustadz Farhan].
 http://tashfiyah.com/kesehatan-kalbu-2/
Read More