Bacaan-Bacaan Tasyahud

Bacaan-Bacaan Tasyahud

Dahulu sebelum diajari tasyahud, dalam shalat para sahabat mengucapkan,
السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، السَّلاَمُ عَلىَ جِبْرِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ
“Keselamatan atas Allah. Keselamatan atas Jibril dan Mikail. Keselamatan atas Fulan dan Fulan (yang mereka maksudkan adalah para malaikat).”
Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap mereka seraya berkata,
لاَ تَقُوْلُوا: السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلاَمُ
Janganlah kalian mengatakan, “Keselamatan atas Allah; karena Allah adalah as-Salam.”
Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka bacaan tasyahud. (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)
Membaca Tasyahud Disunnahkan dengan Sirr
Abdullah ibnu Mas ’udz mengatakan, “Merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tasyahud dibaca secara sirr.” (HR. Abu Dawud no. 986, at-Tirmidzi no. 291, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)
Al-Imam Tirmidzi rahimahumallah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh para ulama.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/179)
An-Nawawi rahimahumallah berkata, “Ulama sepakat disirrkannya bacaan tasyahud dan dibenci membacanya dengan jahr. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud.” (al-Majmu’, 3/444)
Bacaan Tasyahud
Bacaan tasyahud yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam sehingga memberikan kelapangan kepada umat beliau untuk memilih di antara bacaanbacaan tersebut.
1. Tasyahud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Ini adalah bacaan tasyahud yang paling sahih di antara bacaan-bacaan yang ada menurut para ulama.
Ibnu Mas’ud Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Rasulullah n mengajariku tasyahud, dalam keadaan telapak tanganku berada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surat al-Qur’an” (HR. al-Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 899).
Adapun bacaannya adalah sebagai berikut,
التَّحِيَّاتُ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh1. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)
Sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dengan,
السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيّ
menggantikan,
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
Di antara yang meriwayatkan demikian adalah Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih al-Bukhari (no. 6265) dan selainnya, dengan jalur selain jalur riwayat di atas. Beliau berkata, “Kami mengatakan saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup,
السَّلاَمُ عَلَيْكَ
“Keselamatan atasmu….”
Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, kami mengatakan,
السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيّ
“Keselamatan atas Nabi….”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Menurut tambahan riwayat ini, zahirnya para sahabat mengucapkan,
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
dengan huruf kaf yang menunjukkan kata ganti orang kedua (yang diajak bicara) ketika Nabi n masih hidup. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah meninggal, mereka menyebutkan dengan lafadz ghaib (kata ganti orang ketiga yang tidak hadir). Mereka mengatakan,
السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيُّ
(lihat Fathul Bari, 11/48) Al-Imam al-Albani t mengatakan, “Dalam hal ini masalahnya lapang. Sebab, lafadz mana pun yang diucapkan oleh seorang yang shalat, asalkan itu tsabit/ pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia telah menepati sunnah.(al-Ashl, 3/891)
Pendapat Ibnu Utsaimin dalam Masalah Ini
Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah, “Menurut saya, ini adalah ijtihad Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, ijtihad ini tidak benar dari tiga sisi:
1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  mengajari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu hadits ini dan tidak mengaitkannya dengan menyatakan, “Selama aku masih
hidup (ucapkan begini…).” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam justru memerintahkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu untuk mengajari manusia lafadz seperti ini.
2. Orang yang mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat tidaklah sama dengan orang yang mengucapkan salam dalam keadaan berhadapan/ bertemu, yang saling bertemu ini tidak terjadi lagi setelah wafat beliau (karena itu lafadznya perlu diganti).
Akan tetapi, orang yang mengucapkan salam kepada beliau di dalam shalat hanyalah sebagai bentuk doa, bukan salam karena mengajak bicara.
3. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengajari tasyahud kepada manusia dalam posisi beliau sebagai khalifah di atas mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz,
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
Hal ini disaksikan oleh para sahabat  dan dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Namun, tidak ada seorang pun yang mengingkari lafadz yang diajarkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Di samping itu, tidak diragukan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu lebih berilmu dan lebih faqih daripada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنْ يَكُنْ فِيْكُمْ مُحَدَّثُوْنَ فَعُمَرُ
“Jika di antara kalian ada muhaddatsun2, dia adalah Umar.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Maram, 3/394)
Dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah dinyatakan, “Yang benar, seorang yang shalat mengucapkan dalam tasyahudnya,
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sebab, inilah yang tsabit dalam hadits-hadits. Adapun riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam masalah tasyahud, jika memang haditsnya sahih, hal itu merupakan ijthad dari pelakunya yang tidak bisa dipertentangkan dengan hadits-hadits yang tsabit. Seandainya hukumnya berbeda antara semasa hidup Rasulullah dan sepeninggal beliau, niscaya beliau akan menerangkannya kepada mereka.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 7/10—11)
Hukum Tambahan Lafadz “Wa Maghfiratuh”
Rabi’ bin Haitsam pernah datang kepada Alqamah, meminta pendapat Alqamah untuk menambah setelah ‘warahmatullahi’ dengan lafadz ‘wa maghfiratuh’. Alqamah berkata, “Kita hanyalah mencukupkan dengan apa yang telah diajarkan kepada kita (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Mushannaf Abdirrazzaq ash-Shan’ani, no. 3062)
2. Tasyahud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
Menurut al-Imam asy-Syafi’i rahimahumallah, tasyahud ini paling beliau senangi karena paling sempurna. Meski demikian, beliau,tidak mempermasalahkan orang lain yang mengamalkan tasyahud selain ini selama haditsnya sahih. (al-Umm, Bab “at-Tasyahud wash Shalah ‘alan Nabi”)
Adapun bacaannya,
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ،ِلهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Semua salam/keselamatan, keberkahan-keberkahan, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah l) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 900)
3. Tasyahud Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu
Lafadznya,
التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ ،ِلهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Semua salam/keselamatan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala), demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 902)
4. Tasyahud Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu
Lafadznya,
التَّحِيَّاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doadoa= pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Abu Daud no. 971, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Daud)
5. Tasyahud Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu
Umar mengajarkannya kepada manusia dalam keadaan beliau berada di atas mimbar. Lafadznya,
التَّحِيَّاتُ ،ِلهلِ الزَّاكِيَاتُ ،ِلهلِ الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ لهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Semua salam/keselamatan milik Allah, amal-amal saleh yang menumbuhkan pahala untuk pelakunya di akhirat adalah untuk Allah, demikian pula ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’, no. 207)
Walaupun riwayat ini mauquf sampai Umar, namun hukumnya marfu’ sebagaimana kata Ibnu Abdil Barr rahimahumallah, “Dimaklumi, dalam urusan seperti ini tidaklah mungkin (seorang sahabat) mengatakan dengan ra’yu/akal-akalan/ pendapat pribadi.” (al-Istidzkar, 4/274)
6. Tasyahud Aisyah radhiyallahu ‘anhu
Lafadznya,
التَّحِيَّاتُ، الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ، الزَّكِيَاتُ ،ِلهلِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
“Semua salam/keselamatan, ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala), shalawat(doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala), demikian pula amal-amal saleh yang menumbuhkan pahala untuk pelakunya di akhirat adalah untuk Allah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Salam kesejahteraan atas kalian.” (HR. Malik no. 209)
Bacaan Tasyahud Manakah yang Paling Utama?
Yang mana saja dari bacaan di atas diamalkan oleh orang yang shalat, semuanya sahih dan mencukupinya. Kata an-Nawawi rahimahumallah, “Ulama sepakat bolehnya membaca semua tasyahud yang ada, namun mereka berselisih tentang mana yang paling utama dibaca. Mazhab asy-Syafi’i rahimahumallah dan sebagian pengikut al-Imam Malik rahimahumallah berpandangan tasyahud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu lebih utama karena ada tambahan lafadz al-mubarakat di dalamnya dan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,
تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Tahiyyat dari sisi Allah yang mubarakah thayyibah.” (an-Nur: 61)
Selain itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menegaskan tasyahud yang diperolehnya dengan pernyataan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat dari al- Qur’an.” Abu Hanifah dan Ahmadrahimahumallah serta jumhur fuqaha dan ahlul hadits berpendapat, tasyahud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu lebih utama karena haditsnya paling sahih menurut ahli hadits, walaupun seluruh bacaan tasyahud di atas haditsnya yang sahih.
Al-Imam Malik rahimahumallah berkata, “Tasyahud Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu  yang mauquf3 lebih utama karena Umar mengajarkamnya kepada manusia dalam keadaan beliau di atas mimbar dan tidak ada seorang pun (yang hadir) menentangnya (menyalahkan bacaannya). Ini menunjukkan keutamaan bacaan tersebut.” (al-Minhaj, 4/336)
Kata al-Imam at-Tirmidzi rahimahumallah, hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan lebih dari satu jalur dan merupakan hadits yang paling sahih dari Nabi n dalam masalah tasyahud. Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kalangan tabi’in setelah mereka. Ini adalah pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan at-Tirmidzi, 1/177—178)
Kata al-Bazzar rahimahumallah, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahumallah dalam Fathul Bari (2/408), “Aku tidak mengetahui dalam hal tasyahud ada hadits yang lebih kokoh, lebih sahih sanadnya, dan lebih masyhur para rawinya daripada hadits ini.”
Memulai Tasyahud dengan Zikir Selain Tahiyat
Abul Aliyah berkata, “Ibnu Abbas mendengar seseorang ketika duduk dalam shalat berkata, ‘Alhamdulillah’, sebelum membaca tasyahud. Ibnu Abbas menghardiknya seraya mengatakan, ‘Mulailah dengan tasyahud ’.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 3058)
Dalam riwayat al-Baihaqi (2/143) disebutkan, Ibnu Abbas mendengar ada seseorang berkata dalam tasyahhudnya, ‘Bismillah, at-tahiyyatu lillah’, maka Ibnu Abbas menghardiknya. Ada riwayat dari Ibnu Abbas juga, dia mendengar seseorang ketika duduk dalam shalat berkata, ‘Alhamdulillah’, sebelum  membaca tasyahud. Ibnu Abbas lalu menghardiknya dan berkata, “Mulailah dengan tasyahud.”
Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahumallah mengatakan tentang mengawali bacaan tasyahud dengan zikir yang lain, “Tidak ada satu pun berita yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan adanya bacaan tasmiyah (mengucapkan bismillah) sebelum bertasyahud. Aku tidak mengetahui penyebutan yang demikian selain hadits Aiman, dari Abu az-Zubair, dari Jabir. Namun, dikatakan bahwa Aiman keliru dalam masalah ini dan tidak ada yang meyepakatinya. Jadi, dia tidak kokoh dari sisi penukilan. Semua ulama yang kami jumpai memandang bahwa (bacaan tasyahud) dimulai dengan tasyahud (tanpa ucapan lain sebelumnya) berdasar kabar yang tsabit dari Rasulullah n. Dalam hadits Abu Musa ada dalil yang menunjukkan benarnya ucapan ini. Aku pun telah menyebutkannya dalam kitab ini. Ini adalah pendapat ulama penduduk Madinah, ulama penduduk Kufah, dan asy-Syafi’i serta pengikutnya. Seandainya seseorang ingin bertasyahud dengan menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala sebelumnya, tidak ada dosa baginya.” (al-Ausath min as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf, 2/382—383)
Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari
 https://asysyariah.com/bacaan-bacaan-tasyahud/

Read More
Mengutamakan Akhirat di Atas Dunia

Mengutamakan Akhirat di Atas Dunia

Seandainya kalbu:
1) merenungi kefanaan kehidupan dunia dan tidak langgengnya kesenangan-kesenangan yang ada padanya, dan akan berakhirnya berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, sambil menghadirkan kesempurnaan kenikmatan dan kelezatan akhirat, keabadian kehidupan padanya;
2) merenungi pula kelebihan dan keutamaan kenikmatan akhirat atas kenikmatan dunia; dan meyakini dengan pasti tentang benarnya kedua pengetahuan ini, maka renungannya akan menghasilkan pengetahuan yang ketiga:
Akhirat dengan kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi tentu lebih pantas diutamakan oleh setiap orang yang berakal daripada kehidupan dunia yang fana dan menipu.
Dalam hal pengetahuan tentang akhirat, ada dua keadaan manusia:
  1. Dia mendengar pengetahuan itu dari orang lain dalam keadaan kalbunya tidak benar-benar yakin terhadap akhirat dan tidak mau bersungguh-sungguh memahami hakikatnya.
Ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Ada tarik-menarik antara dua kutub di dalam dirinya. Daya tarik yang pertama memikatnya untuk lebih mengutamakan dunia, dan inilah yang terkuat dalam dirinya. Sebab, dunia bisa disaksikan dan dirasakan langsung oleh pancaindra.
Read More
Meniti Jalan Sahabat

Meniti Jalan Sahabat

“Tidaklah mendatangi kalian suatu masa kecuali masa yang setelahnya lebih jelek dari masa tersebut.” [H.R. Al-Bukhari, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu]
Merupakan sunnatullah bahwasanya setiap datang suatu zaman, pasti zaman tersebut lebih jelek dari sebelumnya.
Mari bercermin pada zaman pertama, zaman Nabi Adam ‘alaihi sallam. Pada zaman itu seluruh manusia menyembah Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Lalu, saat sepuluh generasi berlalu, muncullah umat Nabi Nuh yang mempersekutukan Allah dengan menyembah orang shalih. Saat turun azab Allah kepada penduduk bumi hingga hanya tersisa Nabi Nuh beserta orang-orang yang bertauhid, bumi pun menjadi tenang. Kemudian muncullah kembali penyembah selain Allah yang lebih buruk daripada generasi yang terdahulu. Demikianlah seterusnya, hingga Allah pun mengutus kepada kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi terakhir, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di utus kepada sekalian alam . Beliau membawa cahaya penerang kepada masyarakat yang telah rusak moralitas dan agamanya dalam segala aspek. Beliau membawa cahaya yang telah disempurnakan oleh Dzat Yang berada di atas langit ketujuh.

Read More
Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat

Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat

Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.
Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,
فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨
        “Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)

Apa Itu Syafaat?
Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.

Read More
💥⚠⛔🔥 SIKAP KERAS DAN AKHLAK BURUK AKAN MEMALINGKAN MANUSIA DARI KEBENARAN!!

✍🏼 Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:

بعض الناس قد يكون صارفا للناس صادا لهم بأخلاقه السيئة وتعاملاته الرديئة، فإيكم ثم إياكم والشدة في تعامل بعضكم بعضا، وفي التعامل مع الناس، وفي تبليغ دعوة الله تبارك وتعالى.

"Sebagian orang terkadang memalingkan manusia dari kebenaran dan menghalangi mereka darinya dengan sebab akhlaknya yang buruk dan perilakunya yang jelek. Maka jangan sekali-kali kalian bersikap keras dalam pergaulan diantara kalian, dalam berhubungan dengan orang lain, dan ketika menyampaikan dakwah agama Allah Tabaraka wa Ta'ala."

📚 Al-Lubab Min Majmu’ Nashaih asy-Syaikh Rabi’ lisy Syabab, hlm. 289

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Read More
Yang Muda Yang Bertakwa

Yang Muda Yang Bertakwa

Siapa bilang waktu muda cuma untuk hura-hura? Waktu muda adalah waktu yang prospektif untuk investasi masa datang. Jangan tunggu masa tua kalau bisa dikerjakan di hari ini.
Siapa sih yang tidak mau masuk surga? Tapi, perlu kita ketahui bahwa masuk ke dalam surga itu bukan perkara yang mudah kecuali orang yang dimudahkan oleh Allah. Karena, surga itu dikelilingi dengan sesuatu yang kita benci, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan sesuatu yang kita inginkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Saat Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus Malaikat Jibril ke surga. Allah berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihat surga dan apa yang Aku persiapkan bagi penghuninya.’ Jibril pun mendatanginya dan melihatnya serta apa yang dipersiapkan bagi penghuninya. Lalu Jibril pun kembali dan mengatakan, ‘Demi
Read More
Ilmu Berbuah Bahagia

Ilmu Berbuah Bahagia

Ilmu ibarat pisau bermata dua. Barakahnya melimpah dunia akhirat ketika disyukuri, sebaliknya akan menjadi petaka yang tidak berakhir ketika dikufuri. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewanti-wanti, “Al Quran adalah hujah yang membelamu atau justru akan menuntutmu.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Malik Al Asy’ariRadhiyallahu ‘anhu]. Al Quran justru akan menuntut seseorang apabila ilmu Al Quran yang ia miliki sekedar wawasan tidak diamalkan. Allah pun mencela mereka yang tidak mengamalkan ilmunya, celaan yang dibaca sepanjang zaman. Allah Ta’ala berfirman:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Apakah kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kalian berpikir?” [Q.S. Al Baqarah:44]. Syaikh As Sa’di menafsirkan bahwa walaupun ayat ini turun khusus pada Bani Israil,
Read More